INTERUPSI STAGNANSI
Warta Kota

Kenalku pada sebuah ruang interaksi,
akan dua pihak yang saling mencari.
Bertukar informasi dan saling melempar interupsi.
Ialah kaderisasi, tempat pengoptimalan potensi untuk pengkader maupun kader. Bagiku, baik pengkader maupun kader memiliki hak dan kewajiban yang sama, yaitu untuk saling belajar dan memberikan pembelajaran, karena sejatinya kaderisasi merupakan pertukaran nilai, bukan hanya penurunan nilai yang berkonotasi retorika sepihak.

Bukanlah lelah yang aku benci ketika mengemban sebuah tanggung jawab (menjadi seorang pengkader), tapi kecemburuan saat teman-temanku yang lain dapat bertukar cerita, berbagi keceriaan pada momen-momen menyenangkan. Sedangkan aku harus berdebat persoalan metode untuk kenyamanan dan ketenangan mereka. Aku pun perlu mengurangi proporsi waktuku untuk bisa mengejar mimpi-mimpi ku pribadi.
Membingungkan memang.

Bagiku kaderisasi hanyalah sebuah anak panah, dimana kita-lah sang pemanahnya; kita-lah yang menentukan kemana arah anak panah tersebut dilesatkan. Kita yang harus memaknai nilai yang ingin kita gapai; dan aku sangat berharap kita telah memaknai semua ini secara baik.

Pemaknaan yang baik itu pun mengantarkan pada suatu momen dimana setiap ketidakpedulian dan rasa ego yang ada telah memudar.
Roh yang sebelumnya tak bernyawa; terlahir kembali, lebih pulih, lebih mudah memaknai, yang terpenting; lebih manusia.

Ternyata, terdapat hal penting yang baru kusadari, rasa senang, rasa puas (karena sudah terpenuhi hasrat hatinya), dan kelapangan dada yang aku rasakan tidaklah muncul dari kesuksesanku dalam mengejar mimpiku sendiri. Akan tetapi terwujud ketika melihat kawan-kawanku berhasil menggapai mimpi-mimpi kecil mereka satu-persatu . Ketika melihat pribadi dan pesona mereka berkembang sejalan dengan semua itu.
Atau mungkin seminimalnya ketika melihat mereka bercanda tawa satu sama lain tanpa memikirkan beban yang sedang mereka pikul.

Lalu sepintas tanyapun terlintas dalam benakku

“How can we ever make love tangible enough to let it guide us away from our worst impulses towards the better within ourselves?”

Malam pun membantu ku menjumpai jawab atas segala pertanyaan itu.
Kalianlah jawabannya.
Yang telah merubah paradigmaku terhadap dunia ini, kalian begitu nyata.
Terimakasih teruntuk kalian yang selama ini ada.
Terimakasih teruntuk kalian yang telah menginterupsi stagnansi dalam hidupku.

Andai waktu bisa disekap, ingiku diam-diam kembali ke masa itu.


Untuk kalian semua yang wajahnya terdapat pada gambar diatas.

Riandzaki Hafiz -15416034

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *